Kamis, 10 Oktober 2019

Pengalaman Hamil dan Melahirkan Di Jepang


Seputar hamil dan melahirkan di jepang
Apa yang Berbeda?
Yang Bikin Ketagihan..

Punya pengalaman 3 kali hamil dan melahirkan di jepang, rasanya ga afdol kalo ga nulis soal ini.  Kali ini saya mau bahas soal apa saja yang berbeda dan menjadi ciri khas saat hamil dan lahiran di jepang.. yang bikin saya nagihh dan betah bgt hamil dan lahiran disini.


1. Saat Sudah Positif Hamil
Saat kita sudah dinyatakan positif hamil oleh dokter  obs-gyn atau sanfujinka (産婦人科) maka kita harus mendaftarkan asuransi kesehatan dan kehamilan di Public Health Center  terdekat, ibu hamil nanti akan dikasih Boshi Kenko Techo (母子健康手帳) dan Boshi Kenko Bag (母子保健バッグ). Boshi techo adalah buku catatan yang digunakan untuk mencatat kondisi kesehatan ibu hamil dan anak. Habis melahirkan, buku ini tetap dipakai ketika pemeriksaan rutin anak semacam posyandu dan vaksinasi. Bahkan sudah ad boshi techo berbahasa indonesia. Nah kalo saya selama tiga kali hamil ga pernah dapet, dapetnya selalu versi jepang. Boshi Kenko Bag adalah semacam tas atau kit yang di dalamnya ada maternity mark / tanda kehamilan, kupon pemeriksaan rutin kehamilan (ninpu kenko shinsa jushinhyo / 妊婦健康診査受診票) dan brosur-brosur mengenai kehamilan lainnya. Tanda kehamilan ini seperti gantungan kunci yang bisa digantung di tas. Jd setiap ibu yg hamil biasanya memasang Gantungan kunci sehingga mereka mendapat prioritas saat mengantri menggunakan kendaraan umum.
Dan tiap tahun gantungan kuncinya berbeda model dn warna.


2. Morning Sickness dan Vitamin Saat Hamil
Berbeda sama d negara kita, dimana ibu hamil yg lagi ngalamin mual mual parah bs gampang bgt minta obat sm dokter, kalo di jepang jangan harap dokter ngasih obat mual, karena mual muntah adalah reaksi alami tubuh atas hormon ibu hamil yang berubah. Jadi dianggap wajar dan bukan suatu penyakit, maka masa2 trimester pertama saya hamil d jepang adalah masa2 paling sulit dan menderita, bayangin aja badan lemes, ga bs makan, tapi tetap harus mengerjakan pekerjaan rumah dan mengurus buah hati. Minta obat sama dokter cuman dibilang "ganbatte ne". Kecuali kalo sampai ga bs makan sm sekali maka nanti dokter menyarankan untuk diinfus cairan. Udah gitu aja, dikasih obat mual? Kaga daah. #tega
Belum lagi soal vitamin ibu hamil, kalo biasanya ibu hamil dikasih berbagai macam multivitamin penguat kandungan, nah kalo d jepang, ibu hamil sama sekali ga dikasih vitamin apa apa, selama tiga kali hamil saya ga pernah sekalipun dikasih vitamin, kecuali untuk kasus adanya defisiensi (misalnya saat nanti pemeriksaan darah ketauan kurang zat besi maka baru akan diresepkan vitamin). Dokter di Jepang percaya wanita hamil bisa mendapat nutrisi alami dari makanan. Dan kecuali untuk kasus ada riwayat keguguran maka biasanya dokter meresepkan asam folat atau vitamin lain penguat kandungan, tp kalo kita baik baik saja maka ga perlu pake vitamin khusus. Begitupun susu ibu hamil, jangan harap nemu produk susu khusus ibu hamil, ibu hamil minum susu biasa aja disini. Makanya budget ibu hamil disini ga mehong karena ga segala produk khusus ibu hamil ada.


3. Jauh dari hal hal berbau mitos dan pantangan berkaitan dgn ibu yg sdg hamil
Kalo di negara berapi, hal hal mitos masih banyak dipercayaa ibu hamil, ga boleh ini itu, makanya kayaknya jadi ibu hamil stres banget yah banyak pantangannya. Kalo disini hal hal seperti itu tidak ada, bahkan pantangan makanan pun jarang misal wanita hamil dilarang untuk meminum teh terlalu banyak karena mengandung kafein tinggi. Tetapi di Jepang, minum teh dianggap baik-baik saja. Trus makan sushi (ikan mentah) disini tidak dilarang, karena dianggap sbg nutrisi baik untuk ibu hamil.



4. Dokter di jepang sangat pro lahiran Normal
Kalo hamil di jepang, jangan harap bisa milih lahiran selain lahiran normal.  Dokter disini meyakini bahwa sudah alamiah kelahiran itu dilakukan secara normal, istilahnya jadi bayi sudah tau jalan keluarnya. Tubuh sudah tau kemampuan dan cara untuk mengatasinya. Kecuali untuk kasus yang sifatnya ada penyakit, atau kondisi yg dianggap tidak normal pada saat hamil atau dlm proses melahirkan maka akan dilakukan tindakan sc. Maka Lahiran sc disini dianggap sebagai penyakit (komplikasi). Selain itu juga tidak pro VBAC, jd bagi yang sebelumnya sudah melakukan kelahiran sc maka tidak bisa melakukan lahiran normal.


5. Berat badan Ibu Hamil ga boleh naik lebih dari 8 kg
Kalo di jepang hamil bukan jadi alasan buat gendut (hikss), berat badan adalah salah satu hal yang penting dikontrol saat hamil. Paling maksimal bb ibu hamil naik hanya 10 kg itupun sudah dikatakan kurang baik. Dan dokter nya pun sgt bawel untuk masalah ini, ketat sekali. Selama 3 kali hamil, kenaikan bb saya selalu diangka 20 an kg, makanya udah jd langganan dinasehatin sensei sm susternya. Hal itu dikarenakan kenaikan bb yg besar akan sgt mempengaruhi proses persalinan. Jadi kalo ke jepang, lihat ibu hamil disini badannya kurus kurus yang membesar hanya perutnya saja. Kalo saya sebadan badan 😅😅😂 hehehehehe


6. Pemeriksaan Rutin Kehamilan
Seiring usia kehamilan, frekuensi pemeriksaan biasanya semakin sering, dari sebulan sekali sampai dengan seminggu sekali saat mendekati kelahiran. Prosedur yang rutin dilakukan setiap kali melakukan pemeriksaan kehamilan antara lain
1. Test Urin
mengevaluasi adanya kelainan dalam urin, misalnya keberadaan protein
2. Pengukuran berat badan, tekanan darah. Secara mandiri
3. USG.
Sampai trimester pertama biasanya  diperiksa dengan USG transvaginal. Setelah 4 atau 5 bulan usia kandungan diperiksa dengan USG abdominal.
4. Pengujian lainnya
Trimester Pertama
Ada pengujian golongan darah, rhesus, gula darah, hepatitis b, c, hiv, pap smear, sifilis, toksoplasma, dan rubella. Biasanya ada pemberian vaksin rubella untuk ibu hamil.
Trimester kedua
Ada pengujian glukosa darah, uji bakteri streptococcus dll, HLTV
Trimester ketiga
Ada pengujian darah yg lebih lengkap lagi Hb, leukosit, trombosit, X ray untuk melihat kondisi tulang dan posisi bayi. Dan masih banyak yg lainnya


7. Diskusi mengenai persiapan kelahiran
Pada saat menjelang persalinan d usia kandungan skitar 36/37 minggu, pihak rumah sakit akan berdiskusi dn menjelaskan ttg persiapan dn segala hal yg berkaitan dengan kelahiran. Misalnya, akses dr rumah k rumah sakit pada saat nanti sudah terasa kontraksi, ketersediaan staf yang fasih berbahasa Inggris (bagi yang tidak bisa Bahasa Jepang), masalah makanan yang boleh dikonsumsi dan tidak (bagi yang muslim/ada alergi), dan fleksibilitas aturan lainnya seperti IMD atau Inisiasi Menyusui Dini, room-in/out atau bayi bersama ibu/di kamar bayi tersendiri setelah persalinan, dll. Terus ad room tour dari ruangan persiapan persalinan, ruang bersalin dan ruang perawatan.


8. Bayi yang baru lahir di jepang selalu diberikan Susu Formula
Di jepang pasti kita diberikan arahan untuk memberikan susu formula pada bayi dr sejak dilahirkan, selama tiga kali melahirkan saya mau tidak mau harus memberikan susu formula, karena rs tempat saya melahirkan tidak pro ASI saja. Jadi harus dimix dengan susu formula, tujuannya untuk menambah berat badan bayi. Karena ada target kenaikan bb nya setiap hari. Sementara asi saya pada saat itu masih minim  Jadi saya terpaksa memberikan susu formula pada ketiga anak saya. Dan kebanyakan susu formula di jepang mengandung unsur babi, jadi tidak bisa digunakan, namun alhamdulilah ada beberapa merk yang ternyata aman untuk dikonsumsi.


9. Penanganan kelahiran yang sangat profesional rapih, bersih, cepat.
Takjub pada penanganan mereka saat lahiran, sangat bersih, bahkan tidak meninggalkan noda darah sedikitpun, semua dilakukan dengan sangat cepat, dan higienis. Makanya angka kematian ibu akibat pendarahan atau infeksi sangat jarang terjadi. Angka kematian ibu dan bayi di Jepang termasuk yang paling rendah di dunia


10. Tali pusar tidak dibuang
Di jepang Tali pusar atau ari ari bayi disimpan dengan baik di dalam kotak kayu. Biasanya diberikan kepada kita untuk dibawa pulang.


11. Rawat inap pasca lahiran
Pasca Melahirkan, wanita yang melahirkan normal disarankan untuk menginap di rumah sakit selama 5 hari, sedangkan untuk yang menjalani persalinan sesar selama 7 hari.
Di jepang masa istirahat pasca melahirkan ini memang lama, dan ada jadwal yang harus dipatuhi oleh para ibu seperti pelatihan mengurus bayi, memandikan, cara menyusui yang benar, sampai ada pijatan dan perawatan tubuh khusus ibu pasca lahiran.
Selain itu berbeda dengan d indonesia dimana rumah sakit memperbolehkan pasangan atau saudara pasien untuk tinggal di rumah sakit selama dirawat, namun di Jepang hanya ibu dan bayinya yang diperbolehkan tinggal di rumah sakit sebelum dan setelah persalinan. Jadi sangat sangat privasi.


12. Enak dan Sehatnya Makanan rumah sakit di jepang
Makanan yang diberikan rumah sakit kepada ibu pasca melahirkan biasanya terdiri dari beberapa menu yang sudah ditakar kalorinya. Menunya sangat komplit dari protein hewani, karbo, dll. Dan pastinya tidak akan menemukan adanya gorengan pada menu. Kalo saya sangat suka sekali dengan makanan rumah sakit di jepang, karena selain rasanya lezat menunyaaa banyak. bahkan kita diberikan hidangan spesial ucapan selamat dari rumah sakit yang mevvah menurut saya. Makanya ini salah satu yang bikin saya nagih dan betah lahiran disini. Hihihi #mauLagiAh


13. Biaya kelahiran yang disubsidi  sampai 420.000 yen atau sekitar 57 juta rupiah
Adanya bantuan subsidi ini sangat membantu sekali meringankan biaya lahiran. Jika harus melahirkan sc maka biaya ditanggung 70% plus tambahan uang 420.000yen yg subsidi tadi, karena di jepang lahiran secara sc dianggap komplikasi atau 
penyakit.


14. Adanya penanggung jawab dari pemerintah setempat yg mengontrol ibu dan bayi pasca melahirkan secara rutin
Setelah keluar dari rumah sakit biasanya ada petugas dr pemerintah setempat yang akan mendatangi kita untuk mengecek kondisi bayi dan ibu. Yg seterusnya penanggung jawab ini akan selalu membantu kita saat kita membutuhkan pertolongan yg brkaitan dgn kondisi ibu dn perkembangan anak. Mereka juga hadir untuk mencegah dan mengatasi depresi pasca persalinan. Dan di jepang angka ibu yg menderita baby blues memang sangat rendah.


15. Cuti melahirkan (ikuji kyuuka) bagi ibu yang bekerja di jepang adalah sampai anak berusia satu tahun. Selama cuti ibu tetap mendapat penghasilan setengah dari gaji mereka. Khusus pegawai negeri bahkan mendapatkan cuti sampai anak berusia 3 tahun. Enak binggo kan.

Begitulah kira kira gambaran kehamilan dan kelahiran di jepang berdasarkan pengalaman saya. Namun pd beberapa daerah dan rumah sakit ad yg berbeda kebijakannya. Sebenernya masih banyak poin poin tambahannya, saya hanya menuliskan garis besarnya saja. Makanya saya sangat beruntung bisa merasakan hamil dan melahirkan di jepang selama tiga kali berturut turut.
Mudah2 an dapat kesempatan lagi buat lahiran disini sampai anak ketujuh. Aminnn 😄😄
#hamilDanMelahirkanDiJepang
#sayaKetagihanBanget
#MauLagiDonk



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar