Tampilkan postingan dengan label Dakwah For Umat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah For Umat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Desember 2011

(SERI 1) Aku Ingin Menikah Di Jalan Dakwah

Pernikahan Dalam Perspektif Islam

Penulis : Abu Hamzah

Muqoddimah
Kesempurnaan Islam ini Allah ta'ala tegaskan dalam Al qur'an suroh Almaidah ayat 3:
Artinya : 
"Pada hari ini telah Ku sempurnakan bagi kalian agama kalian, telah kucukupkan ni'mat Ku atas kalian dan telah Ku ridhoi Islam menjadi agama bagi kalian."
 

        Oleh karena itu, kita dapati pada diri Rosulullah SAW suri tauladan dan contoh yang baik lagi sempurna bagi ummatnya. Seluruh aspek kehidupan manusia kalau kita melihat pada diri Rosulullah SAW, maka akan kita dapati contohnya dari beliau SAW. Firman Allah ta"ala dalam suroh al Ahzab ayat 21 :
Artinya :
" Telah ada pada diri Rosulullah SAW suri tauladan yang baik bagi kalian."

    Atas dasar ini, maka wajib bagi seluruh kaum muslimin untuk mengikuti Rosulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam pada seluruh aspek kehidupannya.Termasuk dalam urusan pernikahan dan rumah tangga, Islam amat sangat memperhatikan perkara ini, karena rumah tangga merupakan institusi terkecil dan penting dalam kehidupan sosial masyarakat, yang menjadi tolok ukur baik tidaknya sebuah masyarakat. Pernikahan juga merupakan perkara yang amat esensi bagi manusia, seluruh manusia mempunyai insting seksual, jika hal ini tidak di atur maka bisa menjadi liar seperti binatang. Inilah keindahan Islam, pernikahan menjadi ibadah dan berkah ketika kita berupaya berkesesuain dengan syari'at Islam.

       Dalam Al qur'anul Karim, lebih dari 140 ayat Allah ta'ala berbicara tentang urusan rumah tangga, ini menunjukkan perhatian Islam yang besar terhadap perkara ini, kalau kita rinci antara lain perkara-perkara tersebut adalah berikut ini :
1.    Pandangan Islam tentang pernikahan
2.    Hikmah dan tujuan disyari'atkannya menikah
3.    Kiat memilih calon pasangan
4.    Bimbingan Islam dalam acara pernikahan
5.    kehidupan rumah tangga
6.    Hak dan kewajiban suami istri dan anak-anak
7.    Persoalan-persoalan rumah tangga
8.    Peran sebuah rumah tangga dalam kehidupan bermasyarakat
9.    dan yang lainnya.

       Ayat Al qur' an yang pertama kali berbicara tentang pernikahan terdapat dalam suroh Al Baqoroh ayat 221
Artinya :

"Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran."


      Ayat ini berbicara tentang cara memilih calon pasangan hidup, Allah ta'ala membimbing kaum muslimin agar memilih calon pasangan hidup mereka atas dasar iman dan dien yang haq, bukan semata-mata menurut nafsu syahwatnya dan kepentingan materi keduniaan lainnya. Benar tidaknya kita dalam memilih calon pasangan akan sangat mempengaruhi nasib kita kelak di dunia terlebih lagi di akhirat. Kalau pilihan kita benar, maka insya ALLAH pasangan hidup kita akan membantu kita dalam ta'at dan beribadah kepada Allah ta'ala, serta dalam menegakkan nilai-nilai Islam dalam rumah tangga, tetapi kalau pilihan kita salah, maka dia akan merongrong dunia kita dan merusak agama serta akhirat kita. Kaidah ushul mengatakan :
ما بنى الفاسد الا به فهو الفاسد
Artinya :
" Tidaklah suatu perkara dibangun atas dasar konsep yang rusak, maka bangunan tersebut hasilnya akan rusak."
Rosulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda :

  تنكح المر اة لاربع : لمالها و لنسبها و لجمالها و لدينها, فاظفر بذات الدين تربت يداك
Artinya :
" wanita itu dinikahi karena 4 hal, karena  hartanya, nasabnya, knhecantikannya dan karena agamanya. Pilihlah karena agamanya, maka engkau akan beruntung." (HR. Bukhori Muslim)

Ayat terakrhir dalam Al Qur 'an yang berbicara tentang pernikahan adalah dalam suroh At tahrim ayat 6 :

Artinya :
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. " 

 
Dalam ayat ini Allah ta'ala memerintahkan orang-orang beriman agar menjaga diri dan keluarga mereka dari jilatan api neraka, dengan cara melaksanakan dan mendidik mereka terhadap nilai-nilai Islam dalam rumah tangga, sebagaimana hal ini dijelaskan oleh ibnu katsir dalam tafsirnya. Tidak mungkin kita bisa menegakkan nilai-nilai Islam dalam rumah tangga kalau langkah awal kita salah dalam menjalani kehidupan rumah tangga, yakni salah dalam memilih calon pasangan, berangkat dari hal ini ada keterkaitan yang kuat antara ayat yang pertama sampai terakhir yang berbicara tentang urusan rumah tangga.
 

HIKMAH DAN TUJUAN DISYARI'ATKANNYA MENIKAH

Semua ibadah dalam Islam mengandung hikmah yang baik bagi manusia, baik yang sudah dapat diketahui atau belum bisa diketahui. Allah lah yang menciptakan manusia, Dia lah yang mengetahui apa yang baik dan buruk, yang sesuai atau tidak bagi manusia, maka Allah ta'ala menurunkan syari'at ini adalah untuk kebaikan manusia. Sikap seorang mu'min ketika sudah jelas datang aturan dari Allah dan Rosul Nya adalah "sami'naa wa atho'naa" kami dengar dan kami ta'at, sebagaimana Allah ta'ala jelaskan dalam Al Qur'an suroh An Nuur ayat 51 :

Artinya :

" Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung."

Begitupun dengan syari'at pernikahan, di dalamnya mengandung hikmah dan tujuan yang baik bagi manusia, antara lain adalah :

1.  Untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang asasi.
Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, tidak bertentangan dengan perkara-perkara yang asasi bagi manusia, seperti marah, malu, cinta, ini semua adalah contoh sifat fitrah manusia, dalam Islam tidak boleh dimatikan, tetapi di atur agar menjadi ibadah kepada Allah ta'ala, tidak liar seperti binatang. Menikah juga merupakan fitrah manusia ( ghorizah insaniyah } yang tidak boleh dibunuh sehingga dapat menimbulkan kerusakan pada diri dan masyarakat, maka ghorizah insaniyah/ insting manusiawi ini harus diatur dengan nikah, kalau tidak maka dia akan mencari jalan syaithon yang menjerembabkan manusia ke lembah hitam. Oleh karena itu dalam Islam tidak ada doktrin kerahiban, "tidak menikah dan mengklaim mensucikan diri." Juga tidak dibiarkan saja menghambur nafsu syahwatnya tanpa aturan, sehingga menimbulkan berbagai penyakit moral dalam masyarakat, seperti aids, spilis, free sex, perzinahan, kumpul kebo dan yang lainnya yang ini semua menyebabkan kerusakan di dunia dan kehinaan di akhirat.

2.   Untuk membentengi akhlak yang luhur
Menikah merupakan jalan yang paling bermamfaat dan paling afdhol dalam upaya merealisasikan dan menjaga kehormatan. Dengan menikah seseorang dapat menundukan pandangannya dan menjaga kemaluannya, sehingga tidak terjatuh dalam berbagai bentuk kemaksiyatan dan perzinahan, dengan menikah seseorang dapat menjaga kehormatan dan akhlaknya, tidak mengikuti nafsu syahwatnya. Maka Islam menghasung para pemuda untuk segera menikah, untuk menjaga mereka dari berbagai macam kerusakan moral. Bersabda Rosulllah Shalallahu 'Alaihi Wassalam :

عن ابن مسعود قال رسولله صلى الله عليه و سلم : يا معشر الشباب من استطع منكم الباءة فليتزوج ,فانه اغض للبصر و احصن للفرج ,ومن لم يستطع فعليه بالصوم فانه له وجاء. متفق عليه.

Artinya :

Dari Ibnu Mas'ud RA telah bersabda Rosulullah SAW : " Wahai para pemuda barang siapa diantara kalian yang sudah mampu maka segeralah menikah, karean hal ini dapat menundukan pandangan dan menjaga kemaluan, barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa karena hal ini dapat menjadi tameng baginya. " (Muttafaqun 'alaihi)

 
3.  Untuk menegakkan rumah tangga yang Islami

Ini merupakan salah satu tujuan pernikahan dalam Islam, yang semestinya setiap mu'min memperhatikannya. Maka Islam sedemikian rupa mengatur urusan pernikahan ini agar pasangan suami istri dapat bekerja sama dalam merealisasikan nilai-nilai Islam dalam rumah tangganya.
      
4.    Untuk meningkatkan ibadah kepada Allah ta'ala

Pernikahan merupakan salah satu lahan yang subur bagi peribadahan dan amal sholeh disamping amal-amal ibadah yang lain, sampai seorang suami yang melampiaskan syahwatnya kepada istrinya disebut sebagai shodaqoh. Bersabda Rosulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam :

.....و في بضع احدكم صدقة, قالوا : يا رسول لله, اياتي احدنا شهوته و يكون له فيها اجر؟ قال : ارايتم لو وضعها في حرام, اكان عليه فيها وزر؟ فكذلك اذا وضعها في الحلال كان له اجر.
Artinya :
  
       " …..Sesoorang diantara kalian yang bergaul dengan istrinya adalah sedekah!" Mendengar sabda Rosulullah SAW tersebut para sahabat bertanya : " Wahai Rosulullah, apakah seseorang dari kita yang melampiaskan syahwatnya terhadap istrinya akan mendapatkan pahala?" Rosulullah SAW menjawab : " Bagaimana menurut kalian jika sesorang bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah dia berdosa?, Begitu pula jika dia bersetubuh dengan istrinya maka dia akan mendapatkan pahala." (HR. Bukhori Muslim)

5.    Untuk memperoleh banyak keturunan yang sholeh dan sholehah
               
      Firman Allah ta'ala dalam suroh An Nahl ayat 72 : Artinya :

     " Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?"
      
     Melalui menikah – dengan izin Allah ta'ala- seseorang akan mendapatkan      keturunan yang sholeh sehingga menjadi asset yang sangat berharga, karena anak yang sholeh senantiasa akan mendo'kan kedua orang tuanya ketika masih hidup atau sudah meninggal dunia, hal ini menjadi amal jariyah bagi kedua orang tuanya.
Dengan banyak anak juga akan memperkuat barisan kaum muslimin. Ketika mereka di didik dengan nilai-nilai Islam yang benar dan jihad fii Sabilillah, maka akan tumbuh generasi yang komitmen dengan agamanya dan siap berkorban jiwa raga untuk tegaknya kalimat Allah ta'ala. Inilah antara lain hikmah Rosulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam menganjurkan umatnya agar menikahi wanita yang subur dan penyayang.
   
تزوجوا الودود الولود, فاني مكاثر بكم الانبياء يوم القيامة
Artinya :
   
 " Nikahilah wanita yang subur dan penyayang! Karena aku akan berbangga dengan banyaknya umatku di hadapan para nabi pada hari kiamat." HR Ahmad dan Ibnu Hibban.


6.   Untuk mendatangkan ketenangan dalam hidupnya.


Ini merupakan salah satu tujuan dalam pernikahan, yakni membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah wa rohmah. Firman Allah ta'ala dalam Al Qur'an suroh Ar Rum ayat 21 :
Artinya :
" Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir."
 

Rosulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam menyebutkan beberapa indikasi keluarga sakinah, mawaddah wa rohmah dalam sabdanya :

عن انس قال رسول لله صلى الله عليه و سلم : اذا اراد الله باهل بيت خيرا, فقههم في الدين, و وقر صغيرهم كبيرهم, و رزقهم الله الرفق في معيشتهم, و القصد في نفقاتهم, و بصرهم عيوبهم فيتوبوا منها. و اذا اراد الله غير ذلك تركهم هملا.  رواه الدارقطني .

Dari Anas RA, telah bersabda Rosulullah SAW : " Apabila Allah ta'ala ingin menghendaki kebaikan pada sebuah rumah tangga, maka Allah ta'ala akan mengkaruniakan keluarga tersebut kepahaman terhadap agamanya, orang yang kecil dikeluarga akan menghormati yang besar, Allah ta'ala akan mengkaruniakan kepada mereka kemudahan dalam penghidupan mereka dan kecukupan dalam nafkahnya, dan Allah ta'ala akan menampakkan aib dan keburukan keluarga tersebut kemudian mereka semua bertaubat dari keburukan tersebut. Jika Allah ta'ala tidak menginginkan kebaikan pada sebuah keluarga, maka Allah ta'ala akan biarkan begitu saja keluarga tersebut (tanpa bimbingan Nya). (HR Ad Daruquthni)

 

Dalam hadits yang mulia ini ada beberapa indikator keluarga sakinah, yakni :
1.   At tafaqquh fid diin (Allah ta'ala tunjuki untuk mendalami agama)
     Indikasinya adalah, anggota keluarga tersebut rajin dan penuh semangat dalam   
     menuntut ilmu agama,menjadikan rumahnya sebagai tempat ibadah dan majelis ilmu, 
     cinta kepada orang-orang sholeh dan pejuang Islam serta mereka berupaya menerapkan 
     nilai-nilai Islam  itu pada seluruh anggota keluarganya.
2.   Al ihtiroom al mutabaadil lilhuquuq baina ash shighoor wal kibaar (ada 
      penghormatan yang timbal balik dalam kewajiban antara orang tua dan 
      anak-anak),
      Indikasinya anak-anak berbakti kepada orang tuanya dan merekapun mendapatkan 
      pendidikan dan kebutuhan dari kedua orang tuanya, serta lingkungan keluarga yang 
      kondusif dan Islami.
3.   Ar rifqu fil ma'iisyah ( Allah ta'ala mudahkan penghidupannya )
     Indikasinya selalu berusaha mencari nafkah dengan jalan yang halal, gemar berinfak dan 
     membantu yatim piatu serta orang-orang yang membutuhkan bantuan.
4.  Al qoshdu fin nafaqoot ( merasa cukup dengan rezki yang Allah ta'ala karuniakan 
     Indikasinya anggota keluarga tersebut mempunyai sikap qona'ah dan hatinya tidak 
     tergantung dan terbuai dengan kehidupan dunia.
5.  Tabshiirul 'uyuub at taubah 'anhaa ( Allah ta'ala tampakkan aibnya dan mereka 

     bertaubat dari aib tersebut ),
   Indikasinya mereka selalu muhasabah dalam hidupnya, menghindarkan hal-hal yang dapat 
    memadhorotkan anggota keluarga dan diin nya, menjaga kehormatan keluarga dan tidak 
    menyebarkan rahasia-rahasia keluarga.

sumber : http://www.voa-islam.com

Selasa, 09 November 2010

MERAIH LIMPAHAN PAHALA DI BULAN DZULHIJAH

Alhamdulillah, Allah subhanahu wa ta’ala masih memberikan kita berbagai macam nikmat, kita pun diberi anugerah akan berjumpa dengan bulan Dzulhijah. Berikut kami akan menjelasakan keutamaan beramal di awal bulan Dzulhijah dan apa saja amalan yang dianjurkan ketika itu. Semoga bermanfaat.

Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijah
Di antara yang menunjukkan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah adalah hadits Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.”

Di dalam sepuluh hari bulan Dzulhijah terdapat hari Arofah dan hari an nahr (Idul Adha). Kedua hari tersebut adalah hari yang mulia sebagaimana terdapat dalam hadits ‘Abdullah bin Qurth, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya hari yang paling mulia di sisi Allah Tabaroka wa Ta’ala adalah hari an nahr (Idul Adha) kemudian yaumul qorr (hari setelah hari an nahr).”

Keutamaan Beramal di Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijah
Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hadits Ibnu ‘Abbas di atas menunjukkan bahwa amalan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari lainnya dan di sini tidak ada pengecualian. Jika dikatakan bahwa amalan di hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah, itu menunjukkan bahwa beramal di waktu itu adalah sangat utama di sisi-Nya.”
Bahkan jika seseorang melakukan amalan yang mafdhul (kurang utama) di hari-hari tersebut, maka bisa jadi lebih utama daripada seseorang melakukan amalan yang utama di selain sepuluh hari awal bulan Dzulhijah. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Beliau pun menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah.” Lalu beliau memberi pengecualian yaitu jihad dengan mengorbankan jiwa raga. Padahal jihad sudah kita ketahui bahwa ia adalah amalan yang mulia dan utama. Namun amalan yang dilakukan di awal bulan Dzulhijah tidak kalah dibanding jihad, walaupun amalan tersebut adalah amalan mafdhul (yang kurang utama) dibanding jihad.
Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hal ini menunjukkan bahwa amalan mafdhul (yang kurang utama) jika dilakukan di waktu afdhol (utama) untuk beramal, maka itu akan menyaingi amalan afdhol (amalan utama) di waktu-waktu lainnya. Amalan yang dilakukan di waktu afdhol untuk beramal akan memiliki pahala berlebih karena pahalanya yang akan dilipatgandakan.” Mujahid mengatakan, “Amalan di sepuluh hari pada awal bulan Dzulhijah akan dilipatgandakan.”

Amalan di Awal Dzulhijah
Keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu . Di antara amalan yang dianjurkan di awal Dzulhijah adalah amalan puasa. Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya , …”
Namun ada sebuah riwayat dari ‘Aisyah yang menyebutkan, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada sepuluh hari bulan Dzulhijah sama sekali.” [10] Mengenai riwayat ini, Imam Ahmad menjelaskan bahwa yang dimenangkan adalah perkataan yang menetapkan adanya puasa sembilan hari Dzulhijah, yaitu hadits pertama. Namun dalam penjelasan lainnya, Imam Ahmad menjelaskan bahwa maksud riwayat ‘Aisyah adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa penuh selama sepuluh hari Dzulhijah. Sedangkan maksud riwayat Hafshoh adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di mayoritas hari yang ada. Jadi, hendaklah berpuasa di sebagian hari dan berbuka di sebagian hari lainnya.
Kesimpulan: Boleh berpuasa penuh selama sembilan hari bulan Dzulhijah (dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijah) atau berpuasa pada sebagian harinya.

Catatan: Kadang dalam hadits disebutkan berpuasa pada sepuluh hari awal Dzulhijah. Yang dimaksudkan adalah mayoritas dari sepuluh hari awal Dzulhijah, hari Idul Adha tidak termasuk di dalamnya dan tidak diperbolehkan berpuasa pada hari ‘Ied

Keutamaan Hari Arofah
Di antara keutamaan hari Arofah (9 Dzulhijah) disebutkan dalam hadits berikut, “Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah di hari Arofah (yaitu untuk orang yang berada di Arofah). Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?”
Keutamaan yang lainnya, hari arofah adalah waktu mustajabnya do’a. Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arofah.”. Maksudnya, inilah doa yang paling cepat dipenuhi atau terkabulkan. Jadi hendaklah kaum muslimin memanfaatkan waktu ini untuk banyak berdoa pada Allah. Do’a ketika ini adalah do’a yang mustajab karena dilakukan pada waktu yang utama.

Jangan Tinggalkan Puasa Arofah
Bagi orang yang tidak berhaji dianjurkan untuk menunaikan puasa Arofah yaitu pada tanggal 9 Dzulhijah. Hal ini berdasarkan hadits Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” Hadits ini menunjukkan bahwa puasa Arofah lebih utama daripada puasa ‘Asyuro. Di antara alasannya, Puasa Asyuro berasal dari Nabi Musa, sedangkan puasa Arofah berasal dari Nabi kita Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam. Keutamaan puasa Arofah adalah akan menghapuskan dosa selama dua tahun dan dosa yang dimaksudkan di sini adalah dosa-dosa kecil. Atau bisa pula yang dimaksudkan di sini adalah diringankannya dosa besar atau ditinggikannya derajat. 
Sedangkan untuk orang yang berhaji tidak dianjurkan melaksanakan puasa Arofah. Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa ketika di Arofah. Ketika itu beliau disuguhkan minuman susu, beliau pun meminumnya.”
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar bahwa beliau ditanya mengenai puasa hari Arofah di Arofah. Beliau mengatakan, “Aku pernah berhaji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau tidak menunaikan puasa pada hari Arofah. Aku pun pernah berhaji bersama Abu Bakr, beliau pun tidak berpuasa ketika itu. Begitu pula dengan ‘Utsman, beliau tidak berpuasa ketika itu. Aku pun tidak mengerjakan puasa Arofah ketika itu. Aku pun tidak memerintahkan orang lain untuk melakukannya. Aku pun tidak melarang jika ada yang melakukannya.”
Dari sini, yang lebih utama bagi orang yang sedang berhaji adalah tidak berpuasa ketika hari Arofah di Arofah dalam rangka meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Khulafa’ur Rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman), juga agar lebih menguatkan diri dalam berdo’a dan berdzikir ketika wukuf di Arofah. Inilah pendapat mayoritas ulama.

Puasa Hari Tarwiyah (8 Dzulhijah)
Ada riwayat yang menyebutkan, “Puasa pada hari tarwiyah (8 Dzulhijah) akan mengampuni dosa setahun yang lalu.” Ibnul Jauzi , Asy Syaukani, dan Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini dho’if (lemah).
Oleh karena itu, tidak perlu berniat khusus untuk berpuasa pada tanggal 8 Dzulhijjah karena hadisnya dha’if (lemah). Namun jika berpuasa karena mengamalkan keumuman hadits shahih yang menjelaskan keutamaan berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, maka itu diperbolehkan. Wallahu a’lam.

Rabu, 03 November 2010

Kriteria Suami Pilihan Menurut Rosululloh

 MENUJU PERNIKAHAN ISLAMI ...... 

Bismillahirrahmanirrahim......
Akhirnya bisa nulis lagih setelah sekian hari disibukkan oleh wirausaha yg cukup menyita waktu.. hem hem judulnyahh...bikin akhwat yg masih single atau lg proses taaruf jadi agak ngiler.. sebenernya saya terinspirasi nulis ini gara-gara murobi saya akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat ini, dn saat itu dia mnceritakan bgaimana proses taaruf yg subhanallah membuat saya agak memikirkan agenda "pernikahan" yg sempat saya jadikan prioritas ke sekiaannnnn (insyaAllah sudah ditargetkan kok walau bukan tahun ini..heheheh) huhuhuhu..langsung ajah deh kita cekidot..mudah2an bermanfaat sobat ukhti-ukhti...


Kriteria Umum Seorang Suami Pilihan


Kriteria yang pertama adalah keutamaan agamanya. Ini diukur dr akidahnya dan bagaimana dia beramal dengan Islam. Adakah ia menjaga solatnya, akhlaknya.. Ini adalah berdasarkan hadis:
“Apabila orang yang kamu ridho agama dan akhlaknya datang meminang, hendaklah kamu menikahinya Sekiranya kamu tidak melakukannya niscaya akan timbul fitnah dan kerusakan di atas muka bumi.” 
(Hadis Riwayat at-Tirmizi dalam kitab nikah, (no. 1080) dariAbu Hatim al-Munzi) 

Kemudiannya, hendaklah lelaki itu yang memiliki ciri-ciri kepimpinan yang baik dalam memimpin sebuah rumah tangga dan keluarganya.
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh kerana Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan kerana mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (an-Nisa’ 4: 34)

Hal tersebut untuk menjamin keselamatan, kebahagian, nafkah , dan pengurusan yang baik. Dalam hal ini lelaki sebagai pemimpin dilebihkan dalam beberapa hal, antaranya adalah fisik yang kuat yang melebihi wanita, dan diperbolehkan bekerja di luar rumah tidak seperti wanita yg mesti dapet izin suaminya dan ruang geraknya yg tidak bisa sembarangan. Di samping itu, lelaki/suami juga perlu berupaya mendidik keluarganya ke arah agama dan kehidupan yang baik. Ini bagi menjamin kesejahteraan dalam berumahtangga, melahirkan anak yang soleh/solehah serta menjamin kebaikan di akhirat kelak. Oleh karena itu, selain  memiliki daya kepimpinan yang baik, suami juga perlu memiliki ilmu yang cukup untuk menjamin keluarga sentiasa dalam keadaan yang aman, harmonis dan bahagia.Di dalam firman Allah S.W.T ......“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya Malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6). Di dalam ayat tersebut dinyatakan bahwa, suami atau seseorang individu itu bertanggungjawab untuk memastikan keluarga sentiasa dalam naungan agama yang sahih dan baik untuk menjamin keselamatan keluarganya dari keburukan di akhirat.

Orang Tua  berperan untuk memilihkan calon suami yang tepat sesuai kehendak dan keinginan anak perempuannya dan yang disukainya. Tidak lah baik, jika anak perempuan dipaksa untuk menikah dengan seorang lelaki yang tidak disukainya. Dalam hal ini, Orang Tua juga wajar mencarikan lelaki yang baik  dilihat dari parasnya (yang disukai) di samping beberapa ciri yang sebelumnya. Dalam hal ini, Ibnul Jauzi berkata: “Disukai bagi yang ingin menikahkan anak gadisnya agar memilih pemuda yang bagus parasnya. Karena kaum wanita juga menyukai apa yang disukai oleh kaum lelaki.” (An-Nisaa’, hal. 203). Orang Tua juga perlu memperhatikan dengan siapa anaknya dinikahkan. Ini untuk memastikan anak gadisnya menikah dengan orang yang tepat dan baik serta memastikan kehidupan rumah tangga yang bahagia di masa depan

Dalam satu riwayat, ketika Fatimah binti Qais r.ha. datang kepada Nabi s.a.w. mengabarkan bahwa Abu Jahm dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan datang meminangnya, Rasulullah s.a.w. bersabda kepadanya: “Mu’awiyah adalah lelaki miskin tidak punyai harta, adapun Abu Jahm adalah lelaki yang suka memukul wanita, maka nikahlah dengan Usamah bin Zaid.” Fatimah mengisyaratkan dengan tangannya tanda menolak, yakni jangan Usamah, jangan Usamah!.  Rasulullah s.a.w. bersabda kepadanya: “Mentaati Allah dan Rasul-Nya adalah lebih baik bagimu.” Fatimah berkata: “Akupun menikah dengannya dan aku bahagia sekali.” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan supaya lelaki yang dipilih itu mampu memenuhi keperluan nafkah keluarga dan janganlah dinikahkan anak (wanita) itu dengan seseorang lelaki yang tidak pasti apakah dapat melayani/menjaga anak gadisnya dengan baik atau tidak. Selain itu, menurut imam Nawawi rahimahullah di dalam Syarh Sahih Muslim, beliau menyatakan tentang hadis ini bahwa: “Adapun anjuran Nabi s.a.w. agar menikahi Usamah adalah kerana beliau mengetahui kadar agamanya, keutamaannya, keelokan perangai dan kemuliaannya. Maka Nabi menganjurkan agar menikah dengannya. Namun Fatimah tidak menyukainya kerana Usamah bekas budak dan warna kulitnya hitam. Maka Nabi s.a.w. terus menerus menganjurkannya agar menikah dengan Usamah. Kerana Rasulullah s.a.w. mengetahui kemaslahatannya bagi Fatimah. Dan ini terbukti.” Terdapat suatu hadis yang lain yang menyatakan, lelaki dianjurkan dari kalangan yang mampu memberi nafkah yang baik/mampu.“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, (no. 5066)). Hadis ini juga menunjukkan bahwa kesepadanan dan keselarasan dalam Islam adalah amat penting dan agama merupakan suatu asas yang paling utama dibanding  paras rupa dan kedudukan/harta.

Dalam Fathul Bari (9/83), al-Hafiz Ibnu Hajar berkata: “Seseorang dibolehkan untuk menawarkan anak gadisnya atau wanita yang berada di bawah tanggung jawabnya kepada lelaki yang diyakini baik dan soleh. Karena hal itu akan membawa manfaat kepada yang ditawarkan dan seseorang tidak perlu merasa malu untuk melakukan hal itu. Dan juga diperbolehkan ia menawarkannya kepada lelaki soleh walaupun ia sudah beristeri.”Malah, wanita itu dibolehkan untuk menawarkan dirinya (untuk dinikahi) kepada lelaki yang diketahui kesolehannya. Ini berdasarkan kepada suatu riwayat, dari anas bin Malik r.a. ia berkata: “Seorang wanita datang menawarkan dirinya kepada Rasulullah s.a.w. Ia berkata: “Wahai Rasulullah, apakah engkau mempunyai keinginan untuk menikahiku?”” Puteri Anas berkata: “Betapa sedikit rasa malunya, alangkah buruk wanita ini, alangkah jelek wanita ini!” Anas berkata: “Dia lebih baik daripada dirimu. Ia mencintai Rasulullah s.a.w. dan menawarkan dirinya kepada beliau.” (Diriwayatkan oleh Bukhari, 3/246, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah). Imam Bukhari telah menuliskan bahwa dilarang wanita yang baik dan solehah, dinikahkan/menikah dengan lelaki yang buruk atau seorang penzina. Hal Ini berdasarkan Firman Allah s.w.t. ini, “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik…” (an-Nuur 24: 3)

KESIMPULAN :
Diharapkan wanita untuk memilih calon suami yang baik agamanya (lelaki soleh) sebagai keutamaan, memiliki daya kepimpinan yang baik dalam persoalan keluarga, memiliki kemampuan dari segi keuangan dan ilmu, dan memliki keterampilan/personaliti yang disenangi oleh wanita. Perlu ditekankan, bahwa dalam banyak riwayat, ditunjukkan bahwa pengaruh agama itu lebih diberi keutamaan dibanding ciri-ciri yang lainnya. Malah, di dalam beberapa hadis menunjukkan bahawa ada lelaki yang miskin namun baik agamanya, adalah diberi kepercayaan/saran oleh Nabi S.A.W sendiri. Pilihlah yang baik agamanya sebagai prioritas“… jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dari limpah kurnia-Nya karena Allah Maha Luas (rahmat-Nya dan limpah kurnia-Nya), lagi Maha mengetahui.” (an-Nuur 24: 32). So ukhti yang udah yakin dan sipa tunggu apalagi..ga usah bimbang...bismillah ajahh..

Wallahualam Bishawab....

Sabtu, 09 Oktober 2010

"No Creativity No Life": Disinilah Aku Tancapkan Dakwahku...Hanya Karena AL...

"No Creativity No Life": Disinilah Aku Tancapkan Dakwahku...Hanya Karena AL...: "CUKUP HANYA KARENA ALLAH SAJAUngkapan Hati Seorang Ukhti... Bismillahirrahmanirrahim... Subhanallah, Walhamdulillah, Walailahaillall..."

Disinilah Aku Tancapkan Dakwahku...Hanya Karena ALLAH tak ada alasan lain TITIK!!!


CUKUP HANYA KARENA ALLAH SAJA
Ungkapan Hati Seorang Ukhti...
Bismillahirrahmanirrahim...
       Subhanallah, Walhamdulillah, Walailahaillallahu Wallhauakbar.... Rabb kubersimpuh haya pdMu,segala yg kulakukan di dunia ini Kau yang paling tau, Engkaulah yg berhk mnentukkan Layakkkah Aku Jadi HambaMu yg Solehah dan yang Kau Ridhoi..Hanya Engkau yg Tahu Niatku Berjuang Di JalanMu ikhlas kah atau semata2 mncari kemuliaan dimata manusia???... HAanya Enkau yg tahu seberapa Ikhlas aku berdakwah mnjadi guru bagi para mad'u ku??? Rabb..Aq hanya Ingin mlkukan yg terbaik yg bs aku lakukan untukMu, berjuang, berdakwah untuk mngibarkan Namamu, Kuserahkan Semua Penilaian PadaMu, Takkan pernah kugantungkan harapanku pd manusia, karena manusia mampu membuat kita kecewa. PadaMulah kugantungkan semua harapan ya Rabb...
           Engkaulah yang paling tahu dn berhak mmutuskan apakah aku layak dimasukan kedalam SyurgaMu. Aq hanya hambaMu yg sombong yg selalu bangga dengan amalan pahala yg telah aku kerjakan, akulah hambaMu yg dhaif yg selalu yakin bahwa amalanku cukup untuk kutunjukkan pdMu nanti. Padahal Bukan hanya Amalan PAHALA lah yg membuat seorang manusia masuk ke dalam syurga, bahkan ibadah beribu2 tahun pun mungkin hanya cukup mmbayar nikmat melihat saja.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam sebuah hadits, “Lan yadhula ahadukumul jannata bi ‘amalihi”. Seseorang tidak akan masuk surga karena amalnya semata-mata. Kemudian salah seorang bertanya, “Wa laa anta yaa Rasuulallaahi?” Tidak pula engkau ya Rasulullah? Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Wa laa anaa illa an yataghamada niiyallaahu bi rahmatihi.” Tidak juga aku, kecuali jika Allah mengkaruniai aku dengan rahmat-Nya.
Juga di dalam surat Aali ‘imraan (3) ayat 142, Allah berfirman, “Am hasibtum an tadkhulul jannata wa lammaa ya’lamillaahul ladziina jaahaduu minkum wa ya’lamash shaabiriin.” 
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga padahal belum nyata bagi Allah siapa orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar".

Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah. Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.

This is my story and my opinion.

 Hanya Sekedar Ungkapan Hati........Bismillah

        SAya pernah dirundung dilema yg teramat dalam, sahabat2 saya dalam barisan jamaah ini satu persatu mulai pergi.....mereka berguguran di jalan dakwah dengan alasan "kami kecewa dengan ini semua, kami kecewa yg dilakukn oleh jamaah ini, kami kecewa..bla bla bla.. jamaah ini sudah keluar dari syariah, lebih baik kami ber insilah, apa yg kau harapkan lagi......."  Masalah ini sudah pernah saya bicarakan dengan murobi, sungguh masalah yg membuat saya pusing kepala.. Masalah ini semakin terasa di Bulan RAmadhan Kemarin.

           Suatu malam di bulan ramadhan,saya beritikaf di sebuah mesjid di kota bandung, bersama  para akhwat lainya, malam itu saya bertemu seorang kawan lama yg dari SMA sama2 berada dalam jamaah yg sama, saya pun awalnya bercerita tentang kegiatan kuliah saya, mngenai kuliah dia, keadaan keluarga kami, dn hingga pembicaraan merembet juga pd masalah "dakwah dalam jamaah". Ternyata dari pembicaraan itu saya baru tahu kalau dia juga sudah berinsilah dn masuk jamaah lainnya. dan pertanyaan yang ia sampaikan terakhir pd saya adlah "apakah ukhti akan tetap disini...???". Sepanjang malam saat sy beritikaf sy terus memikirkan pertanyaan itu. saya bukan memikirkan jawabnnya tapi sy memikirkan ada apa sebenarnya sampai seperti ini. Jujur selama semester 8 ini saya tdk mngikuti prkembangan sehingga ad informasi yg tdk saya ikuti dn tdk saya tau,setelah mncari informasi, mnanyakan pd murobi dan kawan2 yg aktif di (..........) akhirnya sayapun tahu jelas sebab musababnya. Dn semenjak itu saya mulai tahu dn sangat faham, dn jujur saya mngakui pd murobi "teh setelah saya pelajari saya akui memang ad yg salah dn ada hal yg saya pun tdk mnyepakatinyah.........." sayapun mnceritakan semuanya pd murobi saya. Namun pertanyaannya, setelah saya akui adnya keanehan lantas saya berfikir untk berinsilah???? JAWABANNYA "TIDAK". sungguh saat sy tau pun tdk pernah terbesit di dalam hati sy untuk mundur, pergi, karena dakwah inilah yg sudah mberikan anugrah,hidayah,berkah hingga saya bisa jd seperti ini, bukan karena jamaah ini tapi sungguh sistem yg sudah sy jalani cocok di hati saya, banyak kawan2 yg amah bahkan yg non muslim merasa nyaman dengan dakwah yg disampaikan, dengan tarbiyah, sedikit2 mngajak mereka untuk mnjadi lebih baik, dn kawan2 yg non muslim mulai mndalami islam (bahkan ada beberapa yg sudah mnjadi muslim), karena yg saya rasakah dakwah ini "lembut" dn mampu mrangkul sobat2 muslim yg masih tdk faham akan islam, saya bahagia disini, tdk ada keraguan sedikitpun di hati saya. Seorg teman saya bahkan snegaja mng sms saya " Ukhti antuna jangan mnutup mata... sadarlah...jika antum tetap disini maka antum KAFIR dan masuk golongan syetan...golongan sayalah yg paling benar....bla bla bla" Astagfirullohaladzim setega itukah kata2nya pdku, dn bukan hanya sekali ia mngatakannya, berkali2 bahkan sampai sekarang....Jujur bukannya mnutup mata dengan yg terjadi di "barisan Qiyadah ini" tapi ini bukan jamaah dimana semua ikhlas berjuang, dn sy pun yakin d barisan jamaah yg lainya pun tdk semua jamaahnya memilki niat yg ikhlas, karena kita tdk pernah tau hati manusia, saya hanya mncoba khusnudzon, dn percaya selalu ada alasan atas semua itu.... dn itu pula yg diyakinkan olh murobi saya. Saya blg dengan lantang pd murobi saya "Sedikitpun sy tak pernah ragu, tak pernah gentar, sy tdk akn kmana2, tetap disini, jika memang ada yang salah maka saya tdk akan lari tp sekuat kemampuan saya saya perbaiki sehingga mnjadi sperti yg seharusnya ". Dn asal saya berdakwah dilandasi keikhlasan dn hanya mngharap ridho Allah, itu saja cukup bagi saya.......

             Dn saat ini saya mulai gerah dengan komentar, status orang2 yg sudah berinsilah yg mnjelek2kan, mncaci jamaah lainnya trmasuk "jamaah ini". Sebegitu mudahnya mreka mnganggap muslim lainnya KAFIR, golongan syetan, layaknya berkata kepada musuh, bahkan tak jarang mnggunakan kata2 yg kasar dn tdk sopan dn sungguh miris melihatnya. Mereka mngatakan "kamilah yg paling benar, jalan kami yg benar2 tulus... bla bla bla" Saya tdk pernah berkomentar atas pndapatnya, karena memang sypun tak tahu siapa yv paling benar krn saya pun sdgn dlm proses mcari kbenaran sejati, namun saya GERAH jika sudah saling mnjatukan, mncaci, mngolok2 jamaah yg lain, bahkan saya pernah ditagg foto yg sungguh penghinaan trhadap "jamaah saya" dn saya di tagg oleh teman sy sendiri yg sudah berinsilah..BEGINIKAH CARA DIA UNTUK MBERI TAHU KEPADA SAYA???? saya sama sekali tidak tertarik, karena caranya yg sungguh tdk ahsan, dan bukan SEKALI SAJA TAPI BERKALI2.....Sesama muslim sajah seperti ini, padhal kita sama2 brjuang untuk islam tapi dengan cara yg berbeda, saya tdk pernah ikut campur dn berkomentar jamaah yg lain, karena mnurut saya semua org punya hak dn bebas berpendapat atas apa yg benar berdasarkan syariah asal tdk ada satupun yg mlenceng  dari tuntunan Al-Quran dn Al-Hadist. masg2 jamaah punya caranya msg2 untuk brjuang dn sy selalu mnghargai perbedaan ini, bukankah sesama muslim itu bersaudara. jd rasanya tdk etis jika sesama  muslim mnghakimi muslim lainnya dengan kata KAFIR, SYETAN layaknya berkata pd musuhnya. Naudzubillahimindzalik....

لاَيَظْلِمَهُ وَلاَيَخْذُلُهُ وَلاَيَحْقِرَهُ اَلتَّقْوَى هَهُنَاوَيُشِيْرُإِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَأَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ
Dari Abu Hurairah Ra berkata:
“Rasulullah SAW bersabda: “Seorang muslim adalah saudara sesama muslim, tidak boleh menganiaya sesamanya, tidak boleh membiarkannya teraniaya dan tidak boleh merendahkannya. Taqwa (kepatuhan kepada Allah) itu letaknya disini….” Dan beliau mengisyaratkan ke dadanya. Perkataan ini diulanginya sampai tiga kali. ”Cukup besar kesalahan seseorang, apabila dia menghinakan (merendahkan) saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap sesame muslim, terlarang menumpahkan darahnya (membunuh atau melukai), merampas hartanya dan merusak kehormatannya (nama baiknya).”

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat,” (QS al-Hujurat [49]: 10)  

Al-Quran memberikan beberapa petunjuk untuk memantapkan dan menjaga persaudaraan sesama muslim agar tidak retak. Di antara petunjuk itu adalah larangan mengolok-mengolok dan berburuk sangka. Al-Quran menyatakan bahwa orang mengolok-olok belum tentu lebih baik dari yang diolok-olok (QS Al-Hujurat [49]: 11). Dalam ayat lain, al-Quran melarang buruk sangka, menggunjing, dan mencari-cari kesalahan orang lain (QS Al-Hujurat [49]: 12). 

Rasulullah memberikan tuntunan bagaimana umat Islam menjaga ukhuwah antar mereka tidak retak. Sabda beliau, “Seorang muslim itu adalah saudara muslim lainnya, dia tidak boleh menzaliminya dan menghinakannya. Barang siapa yang membantu keperluan saudaranya, maka Allah akan memenuhi keperluannya. Barang siapa yang melapangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah akan melapangkan satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan hari kiamat nanti. Dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat,” (HR Bukhari-Muslim). 

Dalam berinteraksi dengan antar sesama masyarakat agar ukhuwah basyariah maupun ukhuwah wathaniyah tegak, al-Quran melarang transaksi yang bersifat batil (QS al-Baqarah [2]: 188), melarang riba (QS al-Baqarah [2]: 278), anjuran menulis utang-piutang (QS al-Baqarah [2]: 275) larangan mengurangi atau melebihkan timbangan (QS al-Mutahffifin [83]: 1-3), dan lain-lain. 

Selain menghendaki agar kaum Muslim bersaudara, al-Quran melarang kaum Muslim berselisih yang merupakan sebab awal terjadinya permusuhan. Al-Quran memerintahkan agar kaum Muslim melakukan ishlah (perdamaian) jika mereka berselisih paham (QS al-Hujurat [49]: 10).

Rasa ukhuwah yg tumbuh pada tiap jiwa orang mukmin merupakan ni’mat Allah yg perlu diingat . Ukhuwah di dalam Islam mempunyai arti tersendiri. Penyebutan ukhuwah -sebagai suatu ni’mat- didahulukan dari penyebutan diselamat-kannya orang-orang yg beriman dari neraka .

Rasa ukhuwah akan tumbuh subur jika sifat ananiyah dan cinta dunia dikubur dalam-dalam. Untuk menghilangkan sifat ananiyah Rasulullah shallallahu alaihi wasalam menjadikan rasa cinta kepada sesama Muslim sebagai bentuk kesempurnaan Iman.
Tidak iman seseorang hingga ia menginginkan bagi saudaranya apa yg ia inginkan untuk dirinya“.
Dan nilai-nilai keduniaan yg akan menjadi penghambat tumbuhnya rasa ukhuwah akan sirna jika manusia melihat dan merenungi asal-usulnya dan menyadari bahwa kemuliaan yg hakiki di sisi Allah dinilai dari sisi ketaqwaannya.

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasalam bersabda Wahai manusia Tuhan kalian satu dan bapak kalian satu kalian berasal dari Adam dan Adam dari tanah. Sesungguh-nya yg paling mulia di antara kalian di sisi Allah adl yg paling bertakwa. Tidak ada keutamaan bangsa Arab atas bangsa lain tidak pula bagi bangsa lain atas bangsa Arab tidak ada keutamaan bagi kulit merah atas kulit putih dan bagi kulit putih atas kulit merah melainkan dgn takwanya.{HR. Ahmad}. 

Begitu terlihat bahwasanya kaum muslimin saling menyayangi satu sama lain. Saling menutupi kesusahan, saling memaafkan, saling menutupi aib, dan saling menjaga harga diri demi keyakinan yang dianutnya. Begitu besar penjagaan mereka terhadap islam sebagai agamanya, hingga mereka menilai harga diri itu bukan lagi dilihat dari pangkat dan jabatan, bukan dari kesalahan-kesalahan saudaranya, namun mereka melihatnya dari rasa keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT.

Afwan..tulisan ini saya posting atas dasar kesedihan saya atas apa yg terjadi..sesama muslim saling mngaku golongannyalah yg paling benar dn mnjelek2kan yg lainnya, bahkan saling mnjatuhkan yg lainnya, bukankah hal ini malah akan mnjadi sumber perpecahan??? Jika memang akan mnyampaikan kebenaran, sampaikanlah dengan bahasa yg ahsan, tdk perlu mnjelek2an, mncaci dn mnghakimi KAFIR. sungguh saya malah jadi tidak respect. Demi Allah, tdk ada maksud untuk mngatakan bahwa saya juga yg paling benar, namun ini yg saya yakini dn tolong hargai.. posting ini smata2 hanya opini saya, saya hanya hambaAllah yg penuh dengan kekhilafan, oleh karena itu saya mohon maaf jika kata2 diatas ad yg salah atau ada yg mnyinggung...jujur semua hanya opini sayah...

Kebenaran hakiki hanya milik Allah S.W.T

Wallahualam bishawab